NIAT
IKHLAS
“Katakanlah: Sesungguhnya shalatku, ibadahku,
hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya dan demikian itulah yang
diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah).”
(QS. Al-an’am: 162-163)
Setiap aktivitas amalan (yang
baik) hanya akan diterima Allah Swt, jika semuanya dilandasi dengan niat yang
baik dan benar. Niat juga yang akan menentukan pahala yang diperoleh seseorang atas apa yang
dilakukannya yang berarti tanpa niat tidak akan ada pahala meskipun amalnya
sah. Dengan
kata lain niat sangat
penting kedudukannya terhadap suatu ibadah atau amal dan bagaimana pun niat
yang belum terujud amal masih lebih baik daripada amal tanpa niat. Umar bin Hattab menegaskan bahwa dia
telah mendengar Rasulullah
Saw bersabda: ”setiap amal perbuatan
tergantung pada niatnya. Dan
bagi seseorang adalah apa yang diniatkan.
Barang siapa berhijrah karena Allah
dan Rosul-Nya, maka hijrahnya karena Allah dan rosul-Nya dan barang siapa berhijrah
karena mencari keduniawian atau wanita yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya
kepada apa yang dituju.” (HR. Bukhari dan muslim )
Didalam
ketaatan harus ada niat. Tidak ada ketaatan kecuali dengan niat. Dan dengan
kelanggengan niat yang baik, maka dapat melipat gandakan derajat ketaatan. Jika
dikatakan dalam salah satu hadits, “ bahwa
orang yang duduk di masjid,
maka ia telah mengunjungi allah. Hak yang dikunjungi adalah memuliakan
pengunjung “, seseorang yang duduk
dimasjid untuk mengunjungi Allah,
maka iapun akan berniat untuk menunggu waktu shalat, berniat beritikaf, untuk
membentengi diri dari
perbuatan tercela di mesjid, melakukan
dzikir dan membaca al’quran, dan seterusnya. Semua itu merupakan kebaikan yang
berturut-turut
yang diperoleh dengan niat yang baik. Sementara perbuatan yang mubah (diperbolehkan) akan menjadi
ibadah jika dilandasi niat yang baik. Bahkan setiap gerak dan diam akan menjadi
ibadah jika dengan niat yang
baik pula.
Dikatankan
Al-Ghazali bahwa niat,
keninginan, dan
maksud merupakan ungkapan yang mengacu pada satu makna. Niat adalah ungkapan
keinginan yang menengahi
antara ilmu yang sudah ada dan amal yang akan datang. Jadi ia mengetahui
sesuatu yang kemudian darinya memunculkan keinginannya memperbuat sesuatu
dengan ilmunya. Dengan demikian niat sangat berhubungan dengan: Pertama,
keberadaan hati (bathin). Kedua, ilmu atau pengetahuan terhadap
sesuatu. Dan ketiga, dorongan
keinginan (minat) untuk
melakukannya.
Niat
merupakan amalan hati (bathin). Allah
tidak akan memberi
penilaian terhadap bentuk lahiriah seseorang, tetapi akan memberi penilaian terhadap apa yang
ada dalam hatinya. Dari Abu
Hurairah, Rasul saw bersabda: ”sesungguhnya Allah tidak akan melihat
badan dan wajahmu tetapi akan melihat hatimu “ (HR.Muslim)
Selanjutnya
dikatakan bahwa niat adalah kebangkitan jiwa dan kecenderungannya pada apa yang
muncul padanya berupa tujuan yang dituntut. Yang penting baginya, baik
secara segera maupun ditangguhkan selama kecenderungan itu tidak ada dalam
batin, tidak mungkin diusahakan, diciptakan dengan usaha yang dipaksakan
kecuali hal itu hanyalah perpindahan pemikiran dari satu hal ke hal yang
lainnya. Maka itu bukan niat yang sebenarnya. Seperti halnya orang yang lapar
kemudian berkata ”aku
berniat untuk makan”, atau
orang yang gelisah kemudian berkata “ aku telah berniat untuk merindukan
seseorang atau mencintai seseorang “. Hal demikian tidak muncul dalam batinya,
tetapi hanyalah mengalihkan sesuatu hal ketempat lain. Dan itu jauh dari niat.
Apalagi jika sebelumnya itu karena nafsu syahwat semata.
Kebenaran
niat dan kebaikannya itu harus dilandasi dengan pengetahuan sebelumnya terhadap
sesuatu yang diniatkan itu. Kita berniat melaksanakan shalat, sebab kita mengetahui tentang
shalat bagi seorang muslim, juga puasa atau berbakti pada orangtua, dan
lainnya. Jadi niat seseorang ditentukan oleh keadaan ilmunya. Sehingga niat itu
akan baik sebaagaimana yang diharapkan, apabila ditunjang dengan ilmunya yang
benar. Inilah pula yang
menyebabkan menuntut ilmu bukan lagi suatu kewajiban, tapi lebih jauhnya adalah
kebutuhan setiap orang. Semakin baik dan benar
ilmunya maka keadaan dari
amalnya yang telah diniatkannya akan menjadi semakin baik dan berkualitas pula. Karena amal ibadah tersebut sesuai
kehendak Allah
Ta’ala.
Dengan
niat akan mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu, baik secara langsung
ataupun ditangguhkan oleh sesuatu sebab. Barang kali dekat dengan minat (interest), yang berarti dorongan untuk
melakukan sesuatu. jika niat itu mencapai suatu minat, maka akan timbul rasa
senang dalam melakukannya. Dengan rasa senang ini dapat lebih memotivasi diri
untuk memperkuat rutinitas amalan dan kualitasnya. Dan kalau niat terhadap
sesuatu dilandasi dengan ilmunya yang benar, maka kecenderungannya adalah usaha menyegerakan dalam
mewujudkan tujuan tersebut. Jadi semua itu saling menunjang dan penuh
keterkaitan.
Niat
yang benar adalah yang disertai dengan keikhlasan, dengan kata lain niat
ikhlas. Allah swt berfirman:
“padahal mereka tidak disuruh kecuali
supaya menyembah Allah
dengan ketaatan kepadanya dalam menjalankan agama “ (QS. Al-Bayinah : 5)
Setiap
sesuatu sering ternoda oleh yang lain. Maka pekerjaan untuk membersihkan dan
menghindar dari kotoran itulah yang dimaksud dengan ikhlas. Amal perbuatan
manusia hanya akan diterima disisi Allah
swt manakala disertai keikhlasan karena Allah.
Firman-Nya “ingatlah, hanyalah kepunyaan Allah lah agama yang bersih
( dari syirik)”
(QS. Az – zumarl: 3)
Ikhlas
adalah hendaknya seseorang menyengaja dengan dengan penuh kesadaran dari ucapan,
amal dan perjuangannya semata-mata
karena Allah,
untuk mencari ridha-Nya.
Tidak terarah pada pangkat, kedudukan , kemasyhuran, kemajuan, ataupun kemundurun. Suatu amal tidak dikatakan baik jika
tidak disertai dengan niat dan keihklasan semata mata karena Allah.
Ulama
sufi syaikh al-Qusyairi
an-Naisyaburi berkata, “
ikhlas adalah penunggalan akhlak
dalam mengarahkan semua orientasi ketaatan dia dengan ketaatannya dimaksudkan untuk mendekatkan diri pada Allah semata, tanpa yang
lain, tanpa dibuat-buat
, tanpa ditujukan untuk makhluk, tidak usah mecari pujian manusia, atau makna makna-makna lain selain
pendekatan diri kepada Allah
. “
Rasululah s.a.w bersabda: “ tiga
perkara yang tidak bisa dikhianati
hati seorang muslim : keikhlassan
amal karena Allah,
saling menasehati dalam penguasaan masalah, dan tetapnya jama’ah ummat Islam.” (HR. Ahmad dari Abu Bakrah )
Keikhlasan adalah urusan pribadi dengan Tuhannya. Tiada seorangpun yang mengetahuinya
selain apa yang tampak dari amalnya. Bahkan al-Junaid mengatakan bahwa ikhlas merupakan rahasia
antara Allah dan
hambaNya. Tidak ada malaikat yang
mengetahui
dan mencatatnya.
Tidak ada hawa nafsu yang mengetahui
lalu menyondongkannya.
Kesempurnaan
iman seseorang sangatlah ditentukan oleh keikhlasan dalam keyakinan dan amal
perbuatan, sebagai wujud kedekatan dan cintanya kepada Allah. Perbuatan yang tidak
ikhlas pada dasarnya merupakan kesia-siaan
waktu dan tenaga, suatu kemunafikan dan hanyalah menipu dirinya sendiri. Allah Ta’ala berfirman “sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah , dan Allah akan membalas mereka. Dan apabila mereka shalat
mereka berdiri dengan malas,
mereka bermaksud ria
dihadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah
kecuali sedikit sekali
“(QS. An-nisa :142)
Hanya
dengan niat ikhlas, amalan menjadi bernilai ibadah dan mendapat keridhaan
Allah Swt. Dan itulah yang akan menghantarkan kebahagiaan bagi manusia. Semoga kita
termasuk kedalam orang orang yang ikhlas (mukhlis). -Wallohu a’lam-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar