Minggu, 08 Maret 2015

Renungan (Membaca)



BACALAH ATAS NAMA TUHANMU !


Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari ‘alaq. Bacalah,dan Tuhanmulah yang paling pemurah, yang mengajar manusia dengan pena, dia mengajarkan kepada manusia apa yang belum diketahuinya.  
(Q.s. Al-‘alaq:1-5)

Iqra’ dapat diartikan dengan bacalah, telitilah, dalamilah, atau ketahuilah ciri-ciri zaman, sejarah, diri sendiri, baik tertulis maupun tidak tertulis (Prof. Qurays Syihab, 1995). Dengan demikian perintah membaca dimaksud mencakup segala sesuatu yang dapat dijangkau. Ketika perintah ini turun kepada Nabi Muhammad SAW, beliau malah balik bertanya, ‘ma aqra’, apa yang harus dibaca? Pertanyaan teersebut tidak dijawab oleh Allah. Karena yang dikehendaki agar beliau dan ummatnya membaca apa saja, selama bacaan tersebut bismirabbika, ‘atas nama Allah’ dan untuk kemanfa’atan hidup menuju ridha-Nya.

Iqra’ yang dalam ayat di atas di ungkapkan secara berulang-ulang tersebut merupakan perintah pertama yang ditujukan kepada Nabi Saw sekaligus pertanda kerasulannya. Meski sebelumnya dikalangan bangsa Arab berpandangan bahwa membaca itu pertanda kehinaan atau kelemahan manusia. Tetapi kemudian berbalik menunjukan bahwa ‘membaca’ menjadi sesuatu yang paling berharga yang pernah dan dapat diberikan kepada ummat manusia, sebagai syarat pertama dan utama pengembangan ilmu dan teknologi serta syarat utama membangun peradaban.

Perintah Iqra’ merupakan perlambang wajibnya menuntut ilmu (belajar) bagi setiap individu muslim yang tidak bisa ditawar lagi. Rasulullah SAW bersabda:”Menuntut ilmu adalah suatu faridhah (kewajiban) atas setiap muslim” (dirawikan oleh Ibnu Majah). Kata faridhah dalam hadist tersebut memiliki beberapa pengertian sebagaimana dikemukakan Muhammad Qutb dalam bukunya ’Qabasat min ar-rasul’, yaitu:

   1.Kewajiban yang dibebankan Allah kepada seseorang dan harus dilaksanakannya. Kewajiban ini tidak boleh terganggu oleh berbagai pekerjaan lain, dan tidak boleh pula tertunda oleh berbagai kesulitan.

   2.Tanggung jawab yang harus dilaksanakan seseorang, melaksanakan tanggung jawab ini merupakan suatu pengabdiannya, karena ini harus dilaksanakan dengan jujur dan ikhlas.

  3.Suatu perbuatan yang dapat mendekatkan diri seseorang kepada Allah. dengan sebab itu maka keimanan dan kecintaannya kepada Allah bertambah.

         Dengan demikian menuntut ilmu dalam islam sebagai perwujudan perintah Iqra’ menjadi suatu keharusan dan tanpa kecuali, apakah pria atau wanita, kaya atau miskin, tua atau muda bahkan anak-anak sekalipun. Membaca merupakan pintu gerbang menuju keyakinan dan kesuksesan hidup, baik di dunia maupun di akhirat. 
         Lantas apa saja sebenarnya yang harus kita baca? Iqra’ (Bacalah!)  Berarti kita diperintahkan Allah untuk membaca dan memahami firman Allah (Al-Quran) yang diturunkan kepada manusia sehingga menjadikannya sebagai pedoman hidup. Kita hanya dapat mengetahui ajaran islam sebagai ajaran Tuhan melalui al-quran. Setiap ajaran yang terdapat dalam al-quran itulah ajaran islam yang sebenarnya. Maka setiap muslim diwajibkan untuk senantiasa berusaha menggali isi kandungan al-quran, agar dengannya mampu menjadi petunjuk dalam ketaqwaan dan senantiasa mendekatkan dirinya kepada Allah (QS.2:3).

Termasuk dalam membaca wahyu ilahi ini adalah memperhatikan setiap penjelasan dan sikap dari sang pembawa risalah yakni Rasullulah SAW melalui hadist yang smapai kepada kita.  Sehingga beliau S.a.w. dapat menjadi teladan hidup dalam setiap gerak langkah aktivitas kita, dari ucapan lisan, perbuatan hati dan anggota badan. Rasullulah SAW besabda:”ya Allah, rahmatilah khalifah-khalifahku. Para sahabat lalu bertanya, ya Rasullulah, siapakah khalifah-khalifahmu ? Beliau menjawab ‘orang-orang sesudahku yang mengulang-ngulang pelajaran hadits dan sunnahku dan mengajarkannya kepada orang-orang sesudahku”  (HR. A Ridha).

Al-quran dan Al-hadits, itulah sumber utama ajaran Islam sebagai dienulloh (agama Allah) dan sumber ilmu pengetahuan yang tidak akan pernah habis untuk dikaji, yang dengannya Allah S.w.t  akan meninggikan derajat manusia, firman-Nya:“Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang berilmu pengetahuan”(QS. Al-mujadilah:11).    
Dien al-Islam sebagai Ilmu, inilah yang akan mengantarkan seseorang kepada kebaikan di dunia dan akhirat. Bersabda rasulallah SAW:”apabila Allah menginginkan kebaikan bagi seorang, maka dia diberi pendalaman dalam ilmu agama. Sesungguhnya memperoleh ilmu hanya dengan belajar”(HR.Bukhari). Kebaikan seseorang akan diperoleh melalui usaha dengan mempelajari agamanya dengan penuh kesungguhan, dengan proses belajar. Kaitan dengan ini, Nabi S.a.w pun bersabda:”barang siapa merintis jalan mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga”  (HR.Muslim).

Bacalah!  Berarti disamping membaca dan memahami al-quran, kitapun dituntut untuk membaca dan mempelajari berbagai peristiwa dan segala kejadian di alam semesta ini. Al-Quran dan alam semesta, keduanya merupakan ayat-ayat Allah yang terpadu dan saling melengkapi, yang dengannya akan mengantarkan manusia senantiasa mengabdi dan mengagungkan kebesaran dan kekuasa-Nya. Allah swt berfirman dalam surat shad ayat 87:”al-quran ini tiada lain, malainkan suatu peringatan yang membutuhkan pemikiran bagi alam semesta.” 
Banyak diantara ayat-ayat al-Quran yang berbicara tentang alam, materi dan penomenanya. Juga yang memerintahkan manusia untuk mengetahui dan memanfaatkan alam ini. Bahkan secara tegas dan berulang-ulang al-Quran menyatakan bahwa alam raya diciptakan dan ditundukkan Allah untuk manusia. Allah S.w.t befirman:”dan Dia menundukkan untuk kamu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Semuanya (sebagai anugrah) dari-Nya.”(QS.Al-jatsiyah:13).


Bacalah!  Bacalah, kenalilah siapa dan apa diri kamu? Sadari kedudukannya, sebagai  manusia di sisi Allah. Maka setiap muslim diharuskan untuk senantiasa mengkaji dan memahami diri, berinstropeksi dari ucapan, gerak dan langkah, serta perbuatan yang lahir maupun batin dalam setiap kesempatan dan waktu yang telah dilaluinya. Kita dapat melihat kembali sudah benarkah ibadah kita sendiri. Adakah yang salah dalam amalan kita. Karena boleh jadi amal dan ibadah kita selama ini ada yang tidak sesuai dengan tuntutan dan ketentuan  dalam islam, menyimpang, atau bahkan didalamnya merugikan orang lain. Masih banyak yang harus kita renungkan tentang diri kita sebagai bentuk pengenalan diri, sebab apalah artinya banyak mengenal pengetahuan dan ilmu yang luas tanpa mengenal dirinya sendiri. Dan itu semua tentu dalam rangka usaha meningkatkan kualitas diri; kualitas keimanan dan keislaman.

          Allah SWT berfirman;”yaa ayyuhalladzina aamanu, ittaqullaha wal tandzur nafsun ma qoddamath lighad”; wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri (jiwa) memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (QS.Al-hasyr;18). Ciri dari seorang yang beriman adalah selalu berintropeksi diri dalam setiap waktu sehingga selalu menyadari setiap kesalahan dan memperbaikinya. Selanjutnya Rasululah SAW bersabda :barang siapa dari hari kehari tidak bertambah kebaikannya, maka itulah orang orang yang berkemas kemas menuju neraka secara sadar.”(HR.Assakir). Maka belajar itupun selama hayat dikandung badan, agar senantiasa mampu memperbaiki diri dari waktu ke waktu sampai didapatkan kesempurnaan hidup dalam ketaqwaan pada akhir hayatnya (husnul khatimah).

Bacalah ! Apa yang telah terjadi dimasa lalumu, ummat sebelummu, dan seterusnya. Membaca dan mengkaji masa lalu atau sejarah, merupakan bagian penting dalam memperbaiki peradaban ummat manusia. Kita harus banyak belajar dari sejarah dan ambil setiap kebaikan dan hal positif sebanyak mungkin didalamnya, untuk perbaikan kehidupan saat ini dan masa yang akan datang.          

Demikianlah, membaca erat kaitanya dengan akal dan fikiran. Akal inilah hal yang dapat membedakan manusia dan mahkluk lain (binatang) dan dengannya maka dia dapat berfikir, merenungkan setiap hal dan kejadian, memilih jalan menuju pendekatan diri pada Sang Maha Pencipta, mengambil pelajaran dari setiap pengalaman, dan sebagainya. Berbagai ungkapan dalam al-Quran dan as-sunnah, ditujukan hanya kepada mereka yang berakal dan menggunakan akalnya dengan benar, firman-Nya: Allah akan menganugrahkan al-hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barang siapa yang dianugrahi al-hikmah itu, dia benar-benar telah dianugrahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakal yang dapat mengambil pelajaran.” (QS.2:269).
          Kemampuan dan penanaman budaya membaca sebagai wujud perintah iqra’ menjadi kunci keberhasilan seorang muslim dan ummat Islam. Sejarah membuktikan bahwa membaca dapat menumbuhkan kesadaran dan kepedulian umat manusia terhadap ilmu pengetahuan merupakan pendukung utama terciptanya suatu peradaban. Tradisi membaca inilah sebagai warisan yang perlu dihidupkan terus demi kejayaan ummat Islam saat sekarang dan yang akan datang.  -wallohu a’lam.-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar