Jumat, 06 Maret 2015

Renungan (Sederhana)



KESEDERHANAAN

Salah satu unsur yang menonjol dalam kehidupan pribadi Rasulullah SAW adalah kesederhanaan. Melalui kesederhanaan melahirkan kepercayaan yang mendalam dari ummatnya, yang kemudian menjadikan Beliau Saw. sebagai teladan hidup (Uswatun hasanah) bagi setiap yang beriman. Keteladanan dengan kesederhanaan hidup inilah yang melahirkan generasi para pemimpin yang sukses, sebagaimana diwujudkan melalui khulafaur rasyiddin.
         
Pada suatu hari para sahabat membicarakan masalah dunia, kemudian Rasulullah SAW bersabda : “Apakah kalian tidak mendengar? Apakah kalian tidak mendengar? Sesungguhnya kesederhanaan itu bagian dari iman. “(H.R Abu Daud dari Abu Umamah Iyash)

         
Kesederhanaan adalah sikap hidup yang penuh dengan keadilan, keseimbangan, tidak berlebihan, sederhana dalam memenuhi kebutuhan dan memanfaatkan apa adanya. Kesederhanaan ini dapat tercermin dalam ibadah, dalam perkataan, dalam perbuatan, serta dalam memenuhi kebutuha hidup dan keluarga.

a) Kesederhanaan dalam ibadah
     Dari Abu Hurairah RA, dari Nabi SAW, beliau besabda :
“sesungguhnya agama itu mudah, dan si
apa saja yang mempersulit agamanya, maka ia akan salah. Oleh karena itu sedang-sedanglah, dekatkanlah diri kalian (kepada Allah) dan bersuka hatilah kalian serta pergunakanlah waktu pagi, sore, serta sedikit dari waktu malam (untuk mendekatkan diri) ! “(H.R Bukhari)

          kesederhanaan dalam ibadah maksudnya tidak berlebihan
adn tidak dilebih-lebihkan, serta adanya keseimbangan antara pelaksanaan ibadah ritual dan mutamalah. Dalam ibadah ritual seperti shalat, puasa, dzikir, dan sebagainya, segalanya sudah diatur dan dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Menambah-nambah aturan ataupun bacaan yang telah  dicontohkan Nabi SAW termasuk bid’ah yang sesat, yang pada dasarnya itulah sikap berlebihan dalam ibadah, meski alasan adat istiadat sekalipun.

          Ibadah yang utama dalam islam adalah yang rutin, bukannya yang berlebihan  yang menyebabkan dirinya kepayahan. Sebab Allah Swt telah berfirman: “kami tidak menurunkan Alqur’an ini kepamu agar kamu menjadi susah” (Thaha:2). Dan firman-Nya pula: “Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu” (Al-baqarah:185)
         
Dari aisyah r.a, ia berkata: sesungguhnya Nabi saw masuk ke rumah “Aisyah waktu itu ada seorang perempuan, dan beliau berkata : “siapa dia ? Aisyah menjawab : “ini adalah si pulanah yang terkenal shalatnya . ‘Nabi SAW bersabda : “wahai pulanah beramalah sesuai dengan kemampuanmu, sehingga kamu sendirilah yang merasa jemu. Sesungguhnya amalan yang paling disukai Allah yaitu yang dikerjakan secara terus menerus “H.R Bukhari dan Muslim)
Sabda Rasulullah SAW : “binasalah orang-orang yang keterlaluan dan berlebihan. “beliau mengulangi nya sampai tiga kali. (H.R Mulim)

b) Kesederhanaan dalam ucapan
 Islam juga tidak mengharapkan dalam setiap perkataan yang berlebihan. Islam mengajarkan kepada setiap mulim untuk s
elalu berkata baik, jujur dan tidak sombong. Berlebihan dalam suatu pembicaraan tidak disukai sekalipun untuk kepentingan ibadah atau dakwah apalagi sampai mengandung cemoohan, membicarakan kejelekan orang lain yang akhirnya berdampak selain menjauhkan silaturahmi juga melalaikan waktunya. Dari Abdullah jabir bin Samurah Asr Syarawi ra, ia berkata : “seringkali saya bersama Nabi SAW, tetapi di dalam shalat dan khutbah beliau tidak terlalu lama dan tidak terlalu pendek. “(H.R Mulim)

         
Sederhana dalam perkataan adalah yang baik, jelas, dan mudah dimengerti orang lain, tidak berbelit-belit, serta yang sesuai dengan kemampuan dan kapasitas ilmu lawan bicaranya. Dari Aisyah ra, ia berkata : “perkataan Rasulullah SAW adalah ucapan yang sangat jelas, jika orang lain mendengarkannya, pasti dapat memahaminya “(H.R Abu Daud)

          Perkataan yang penuh tawa secara berlebihan adalah tidak baik. Aisyah ra juga pernah berkata : “Saya tidak pernah melihat Rasulullah SAW tertawa dengan bebas, sampai terlihat langit-langit mulutnya. Biasanya beliau hanya tersenyum” (H.R Bukhari)

c) Kesederhanaan dalam Memenuhi Kebutuhan Hidup
Hidup sederhana adalah hidup yang berkecukupan, tidak boros dan manja, serta menerima apa adanya dalam setiap rizki yang di dapatkan dari hasil upayanya dengan suatu keyakinan bahwa itu yang terbaik dari Allah Swt. Rasululllah Saw bersabda : “Berbahagialah orang yang mendapat petunjuk masuk islam, berkecukupan kehidupannya, dan ia merasa puas” (H.R Tirmidzi)

          Melalui kesederhanaan inilah yang akan menyelamatkan setiap insan manusia dari kelalaian hidup serta yang akan mendekatkan dirinya kepada Allah Swt. A
llah Ta’ala berfirman : “Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bemegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanaman-tanamannya mengagumkan para petani ; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan diakhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu” (QS. Al-Hadiid : 20)

          Rasulullah Saw sebagai yang harus menjadi teladan bagi umatnya, telah memberikan contoh dalam bersikap hidup sederhana. Dari Aisyah ra, ia berkata : “Keluarga Muhammad Saw tidak pernah kenyang dari roti gandum dalam waktu dua hari berturut-turut sampai beliau meninggal dunia” (H.R Bukhari dan Muslim).

          Dari Abu Krimah Al-Miqdad bin Ma’dikaraba ra ia berkata, “Saya mendengar Rasulullah Saw bersabda : “Seseorang yang selalu memenuhi
perutnya lebih berbahaya dari pada memenuhi suatu bejana. Cukuplah bagi anak Adam beberapa suap makanan yang dapat menegakkan tulang punggungnya. Andaikan dia tidak mampu berbuat seperti itu, maka sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minum, dan sepertiga untuk nafasnya. “(H.R Tirmidzi)

         
Gambarah secara gamblang kehidupan Nabi saw di ungkapkan salah seorang tokoh syiah as syahid Muthahhari sebagai berikut:”tirakat keserba sedikitan dan hidup sederhana, merupakan 2 prinsip hidup beliau. Beliau biasa makan sederhana dan hidup sederhna. Kasur beliau biasanya terbuat dari tikar. Beliau biasa duduk di lantai, memerah sendiri susu kambingnya dan mengendarai binatang tunggangan tanpa pelana. Beliau tidak mau membiarkan orang orang berjalan kaki sementara beliau mengendarai tunggangan. Makanan utama beliau terbuat dari roti gandum dan buah kurma. Beliau biasa memperbaiki sepatu dan pakaiannya dengan tangannya sendiri. Meskipun berliau hidup sederhana,  beliau tidak menyukai gagasan kemelaratan. Beliau memandang perlu memiliki uang dan kekayaan demi kepentingan masyarakat dan untuk dibelanjakan secara halal. Beliau mengatakan :”alangkah baiknya kekayaan yg diperoleh secara halal oleh seseorang yg layak memilikinya dan tahu bagaimana cara membelanjakannnya.” Beliau juga mengatakan ;”uang dan kekayaan membantu kebajikan.”(falsafah kenabian,h.123-124)

         
Terlihat bahwa kesederhanaan hidup tidak berarti kemudian menolak untuk menjadi seorang yang kaya. Tetapi apakah kekayaan tersebut diperoleh secara halal atau tidak, dan bagaimana kemudian mempergunakan (membelanjakan) kekayaan tersebut, apakah dengan benar atau idak. Mengingat semua itu akan diminta pertanggung jawabannya di hadapan Allah.

          Rasulullah Saw bersabda : “Perhatikanlah orang yang berada dibawahmu dan janganlah kamu memperhatikan orang yang berada di atasmu, karena yang demikian itu lebih pantas, agar kamu semua tidak menganggap remeh nikmat Allah yang telah dikaruniakan kepadamu” (H.R bukhari dan muslim dari abu hurairah ra)

         
Islam sangat perduli terhadap kemiskinan. Seorang muslim yang bersyukur atas nikmatnya, dituntut untuk senantiasa mempunyai kepekaaan sosila dan berjiwa dermawan. Kita tidak diharapkan hidup secara bermegah-megah dan berfoya ria, sementara lingkungan sekitarnya dan umat muslim yang lain masih banyak yang kekurangan dan hidup penuh kemelaratan. Apabila dia mendapatkan kesuksesan dalam hidupnya, kelebihan rizkinya, sehingga setiap kebutuhannya dapat terpenuhi secara berkecukupan baik untuk dirinya sendiri maupu keluarganya, maka ia akan selalu mengembalikan kelebihannya dengan berbagai amal kebaikan untuk kepentingan orang lain yang membutuhkannya, dalam berbagai wujud zakat, shadaqah atau infaq. Sebab Allah Swt tidak menyukai orang yang senantiasa memendam uang atau harta, apalagi jika di sekelilingnya banyak yang kekurangan, kelaparan, dan kemiskinan. Islam menghendaki kondisi pemerataan kekayaan berimbang satu dengan lainnya, sehingga terhindar sifat kedengkian kaum miskin terhadap si kaya dan kesenjangan sosial senantiasa dapat teratasi. Dari abu Umamah ra, ia berkata : “Rasulullah Saw bersabda : “Wahai anak Adam, sesumgguhnya jika kamu memberikan kelebihan hartamu, maka itu lebih baik bagimu dan jika kamu mnahannya, maka itu sangat jelek bagimu. Kamu tidaklah dicela dalam kesederhanaan. Dan dahulukanlah orang yang menjadi tanggunganmu.” (H.R Tirmidzi)

         
Sementara sikap berlebihan adalah sikap yang jauh dari kesederhanaan. Seperti berlebihan dalam berbusana, dalam makan dan minum, ataupun berlebihan dalm memenuhi kebutuhan untuk setiap aktivitas hidupnya di dunia. Meski demikian islam juga membenci sikap yang terlalu berhati-hati dalam membelanjakan atau mempergunakan hartanya untuk kepentingan yang diperlukan, yang dapat menghambat ibadah dan kebajikan, sampai akhirnya selalu mengandalkan orang lain dalam memenuhi kebutuhannya yang sebetulnya ia mampu mengadakan sendiri kebutuhan tersebut. Itulah sifat kikir, yang tidak tahu penggunaan uang dan hartanya untuk kebaikan dirinya, apalagi orang lain. Firman Allah Swt : “Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak pula kikir, dan adalah (pembelanjaan) itu di tengah-tengah antara keduanya “  (Q.S Al-Furqan : 67)

          Meskipun kesederhanaan merupakan pemenuhan kebutuhan hidup secara halal, jauh dari sifat berlebihan (boros) dan tidak kikir, tetapi kita juga dituntut memenuhi kehidupan yang seimbang sesuai dengan kondisi lingkungan serta seiring kemajuan zaman. Wallahu alam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar