UCAPKAN BASMALAH
“Dialah
Allah, yang tiada Tuhan selain Dia, yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Dialah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang ”.(QS. Al-Hasyr:22)
Bacaan basmalah atau bismillahi ar-rahman ar-rohim diterjemahkan sebagai `dengan nama Allah yang Maha Pemurah, Maha Penyayang (Pengasih)`. Suatu kalimat yang utama tempat bertolaknya setiap aktivitas yang dapat mengantarkan manfa`at bagi dirinya, lingkungannya dan juga kemanusiaan secara menyeluruh. Sementara siapapun yang melupakan Allah, maka bisa jadi sia-sialah amalannya, sebagaimana firman-Nya: “Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan” (Qs.Al-furqan:23).
Rasulullah S.A.W. bersabda :” Setiap perbuatan penting yang
tidak dimulai dengan menyebut nama Allah, maka pekerjaan tersebut tidak
sempurna (cacat)” (al-hadits).
Hanya dengan keimanan kepada Allah dengan segala
konsekuensi keta`atan didalamnya yang akan mendapatkan anugrah dan kasih sayang-Nya. Firman Allah S.W.T: “maka sembahlah
Allah dengan menunaikan ibadah kepada-Nya,” (Qs. Al-Mu`min:14)
Kalimat basmalah yang menjadi awal atau pemisah antar surat
dengan kitab suci Al-Qur`an, mengandung makna yang menurut sebagian ulama mencakup
ungkapan kesempurnaan Tuhan, diantara nama-nama dan sifat-sifatnya yang Agung (Asma`ul Husna) tanpa cacat sedikit pun.
Sehingga bagi yang mengucapkannya, diharapkan terlintas segala sifat
kesempurnaan-Nya
tersebut. Bahkan diharapkan manusia dapat mencontoh sifat-sifat tersebut sesuai
dengan kemampuan dirinya yang serba terbatas. Dengan ucapan ini, menunjukkan
kelemahan akan diri serta kebutuhan pada Allah dan memohon pertolongan-Nya.
Tiga dari asma-Nya agung tertuang dalam kalimat
ini, Allah, Al-Rahman, dan Al-Rahim.
Boleh jadi lafadz `Allah` adalah yang terbanyak tercantum dalam al-qur`an, yang
menurut pakar tafsir Qurays Syihab sebanyak 2698 kali. Dialah Allah yang sangat menakjubkan
dalam segala perbuatannya dan yang mengherankan hakikat-Nya. Dia adalah dzat yang wajib wujud-Nya (wajibul
wujud). Satu-satunya yang layak dan wajib disembah oleh setiap makhluk,
sebab tiada Ilah (Tuhan) selain
Allah. Kata `Ilah` diartikan sebagai sesuatu yang disembah, setiap objek
sesembahan. Selain itu dikatakan sebagai thaghut.
Al-Rahmah dan Al-Rahim adalah dua sifat yang hanya dimiliki Allah, berasal dari satu kata yang sama yaitu rahmah atau rahmat. Dalam Al-Qur`an, keduanya sering juga diungkap menjadi satu
rangkaian yang berarti `yang Maha Pengasih
lagi Maha Penyayang` sebagaimana lazimnya dalam terjemah
depag, atau dalam tafsirnya Muhammad Yusuf Ali diartikan dengan `maha Pemurah (All Compassionate), Maha Pengasih (All Merciful)`. Meski demikian, para mufassirin (ahli tafsir) memberikan maknya
yang berbeda dari keduanya. Untuk membedakan keduanya dengan cukup jelas telah
disimpulkan oleh prof. Dawan Raharjo dalam bukunya Ensiklopedia Al-Qur`an, bahwa rahmat
Allah meliputi semua makhluk, baik yang beriman
maupun yang tidak beriman (kafir),
terjadi terus menerus, menyangkut kehidupan di dunia. Kaitan dengan rahmat ini,
Firman Allah: Dan tetapkanlah untuk kami
kebajikan di dunia ini dan diakhirat;sesungguhnya kami kembali (bertaubat)
kepada engkau. Allah berfirman:”Siksa-Ku akan Kutimpakan kepada siapa yang Aku kehendaki dan rahmat-Ku
meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan
rahmat-Ku untuk orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami.” ( Qs. Al-A’raaf : 156)
Sedangkan Rahim-nya Alloh adalah kasih sayang khusus kepada orang beriman, kondisional, hanya terjadi sebagai respon
terhadap tindakan seseorang yang diberikan kelak dalam kehidupan akhirat. Kaitan dengan ini, Firman Allah:”siapakah
yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya dan (siapa
pula yang mengharamkan) rezki yang baik? Katakanlah: semuanya itu (disediakan)
bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus untuk mereka saja
di hari kiamat.“(Qs. al-Araaf; 32). Maksudnya kenikmatan dan perhiasan di
dunia diperuntukkan
bagi yang beriman dan yang tidak beriman, sedang di akhirat hanya bagi yang
beriman saja. Firman-Nya:”dan ta’atilah
Allah dan Rasul, supaya kamu diberi rahmat “(Qs. Ali Imran : 132)
Dijelaskan dengan indah oleh Abdullah Yusuf Ali dalam tafsirnya ‘The Holy Qur’an’, sebagai berikut: “kasih dapat mengundang arti
kasihan, tahan menderita, sabar atau tabah dan penuh ma’af. Semua itu sangat
diperlukan oleh orang yang berdosa dan Allah Maha Pengasih, memberi karunia yang berlimpah. Tetapi ada Kasih
yang sudah mendahului segala keperluan itu, yakni sifat Pemurah yang sudah siap selalu,
memancar dari Allah Yang Maha Pemurah itu kepada semua mahluk-Nya, melindungi,
menjaga, memberi petunjuk kepada mereka, serta membimbing mereka kepada cahaya yang
lebih terang dan nilai hidup yang lebih tinggi. Itulah sebabnya sifat Rahman
(Maha Pemurah) itu tak dapat diterapkan pada apa dan siapapun selain Allah.
Tetapi sifat Rahim (Pengasih) merupakan istilah yang umum, dan dapat juga
diterapkan pada manusia. Agar kita merenungkan anugrah Allah yang tak terhingga itu, maka ucapan basmalah ditempatkan pada setiap awal surat al-Qur’an (kecuali surat 9), dan
diulang pada setiap akan memulai pekerjaan oleh seorang muslim yang ingin
mengabdi hidupnya kepada Allah, dan harapannya hanya dalam kasih-Nya.” (wallohu a’lam)
Nabiulloh Muhammad S.a.w bersabda:
“Allah mempunyai seratus rahmat yang Dia berikan satu untuk penduduk dunia
seluruhnya dan Dia menahan yang 99 lagi untuk di akhirat yang menunjukkan sifat Penyayang dengan
yang 99 ini kepada para hamba-Nya” (Hadits). Keterangan ini menunjukkan kepada kita di dunia ini, kenikmatan yang sudah begitu banyak sampai kemudian tanpa dirasakan atau melupakannya,
ternyata masih tidak seberapa dibandingkan dengan kenikmatan dan kasih sayang
Allah kelak di akhirat, yang hanya akan diberikan kepada
orang-orang yang beriman dan bertaqwa.
Firman Allah Swt : “dan
bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang
disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa.”
(Qs. Ali Imran: 133). Siapakah orang bertaqwa ini, diantaranya disebutkan dalam
Firman Allah: “(Yaitu) orang-orang yang
menafkahkan (hartanya), baik diwaktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang
menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang
yang berbuat kebajikan” (Qs. Ali Imran : 134)
Ketaqwaan itu hanya dapat terjadi
apabila dia mengikuti setiap petunjuk Allah dan Rasul-Nya. Firman Allah:“Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan sebuah kitab (al-qur’an)
kepada mereka yang Kami telah menjelaskannya atas dasar pengetahuan Kami (yang
bermashalat bagi hambanya di dunia dan akhirat); menjadi petunjuk dan rahmat
bagi orang-orang yang beriman.’ (Qs. al-A’raaf :52)
Rasulullah S.a.w telah memberikan petunjuk dan
contoh kepada kita dalam setiap keadaan untuk senantiasa diawali dengan ucapan
basmalah dan do’a, baik ketika memulai beribadah, membaca (belajar), bekerja,
makan, keluar rumah atau naik kendaraan dan lainnya. Semuanya merupakan wujud
ingat kepada Allah (dzikrullah)
sebagai yang akan mengawali dan mengantarkan
ketakwaan kita kepada-Nya. Menurut Rasulullah, setiap do’a yang diawali
dengan ucapan basmalah akan dikabulkan, sebagaimana sabdanya: “Tidak ditolak do’a yang
dimulai dengan bismillahirrohmaanirrohiim.”
(hadits).
Pendek kata jika kita mengharapkan ridha Allah, mari kita awali setiap
aktifitas kita yang baik dengan basmalah. Memulai dengan basmalah sebagai
pengajaran kepada umat, agar mereka mencontoh dalam memulai pekerjaannnya,
membuat selalu gembira, optimis, dan terpelihara oleh Allah. Dengan demikian
dengan ungkapan basmalah kita, setiap apa yang kita lakukan senantiasa
memancarkan cahaya kedamaian dan memberikan kasih sayang kepada sesama dan
lingkungan kita, sehingga terwujud harapan pengikut Muhammad saw, melalui Firman Allah Ta’ala: “dan tiada Kami mengutus kamu
(Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (Os.
Al-Ambiya : 107). -Wallohu a’lam-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar