BACALAH ATAS NAMA TUHANMU !
“Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang
menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari ‘alaq. Bacalah,dan Tuhanmulah
yang paling pemurah, yang mengajar manusia dengan pena, dia mengajarkan kepada
manusia apa yang belum diketahuinya.”
(Q.s. Al-‘alaq:1-5)
Iqra’ dapat diartikan dengan
bacalah, telitilah,
dalamilah, atau ketahuilah ciri-ciri zaman, sejarah, diri sendiri, baik
tertulis maupun tidak tertulis (Prof.
Qurays Syihab, 1995). Dengan
demikian perintah
membaca dimaksud mencakup segala sesuatu yang dapat dijangkau. Ketika perintah
ini turun kepada Nabi Muhammad SAW,
beliau malah balik bertanya, ‘ma aqra’,
apa yang harus dibaca? Pertanyaan teersebut tidak dijawab oleh Allah. Karena yang dikehendaki
agar beliau dan ummatnya membaca apa saja,
selama bacaan tersebut bismirabbika, ‘atas nama Allah’ dan untuk kemanfa’atan
hidup menuju ridha-Nya.
Iqra’ yang dalam ayat di atas di ungkapkan secara
berulang-ulang tersebut merupakan perintah pertama yang ditujukan kepada Nabi
Saw sekaligus pertanda kerasulannya. Meski sebelumnya dikalangan bangsa
Arab berpandangan
bahwa membaca itu pertanda kehinaan atau kelemahan manusia. Tetapi kemudian
berbalik menunjukan bahwa ‘membaca’ menjadi
sesuatu yang paling berharga yang pernah dan dapat diberikan kepada ummat manusia, sebagai syarat pertama dan
utama pengembangan ilmu dan teknologi serta syarat utama membangun peradaban.
Perintah Iqra’ merupakan
perlambang wajibnya menuntut ilmu (belajar) bagi setiap individu muslim yang
tidak bisa ditawar lagi. Rasulullah SAW bersabda:”Menuntut ilmu adalah suatu faridhah
(kewajiban) atas setiap muslim” (dirawikan oleh Ibnu Majah). Kata faridhah dalam hadist tersebut memiliki beberapa pengertian
sebagaimana dikemukakan Muhammad Qutb dalam bukunya ’Qabasat min ar-rasul’, yaitu:
1.Kewajiban yang dibebankan Allah kepada seseorang dan harus dilaksanakannya.
Kewajiban ini tidak boleh terganggu oleh berbagai pekerjaan lain, dan tidak
boleh pula tertunda oleh berbagai kesulitan.
2.Tanggung jawab yang harus dilaksanakan seseorang, melaksanakan
tanggung jawab ini merupakan suatu pengabdiannya, karena ini harus dilaksanakan
dengan jujur dan ikhlas.
3.Suatu
perbuatan yang dapat mendekatkan diri seseorang kepada Allah. dengan sebab itu maka keimanan dan kecintaannya kepada Allah bertambah.
Dengan demikian menuntut
ilmu dalam islam sebagai perwujudan perintah Iqra’ menjadi suatu keharusan dan
tanpa kecuali, apakah
pria atau wanita, kaya atau miskin, tua atau muda bahkan anak-anak sekalipun. Membaca merupakan pintu gerbang menuju keyakinan
dan kesuksesan hidup, baik di dunia maupun di akhirat.
Lantas apa saja sebenarnya yang harus kita baca? Iqra’ (Bacalah!) Berarti kita diperintahkan Allah untuk membaca dan memahami firman Allah (Al-Quran) yang diturunkan kepada manusia sehingga menjadikannya sebagai pedoman hidup. Kita hanya dapat mengetahui ajaran islam sebagai ajaran Tuhan melalui al-quran. Setiap ajaran yang terdapat dalam al-quran itulah ajaran islam yang sebenarnya. Maka setiap muslim diwajibkan untuk senantiasa berusaha menggali isi kandungan al-quran, agar dengannya mampu menjadi petunjuk dalam ketaqwaan dan senantiasa mendekatkan dirinya kepada Allah (QS.2:3).
Lantas apa saja sebenarnya yang harus kita baca? Iqra’ (Bacalah!) Berarti kita diperintahkan Allah untuk membaca dan memahami firman Allah (Al-Quran) yang diturunkan kepada manusia sehingga menjadikannya sebagai pedoman hidup. Kita hanya dapat mengetahui ajaran islam sebagai ajaran Tuhan melalui al-quran. Setiap ajaran yang terdapat dalam al-quran itulah ajaran islam yang sebenarnya. Maka setiap muslim diwajibkan untuk senantiasa berusaha menggali isi kandungan al-quran, agar dengannya mampu menjadi petunjuk dalam ketaqwaan dan senantiasa mendekatkan dirinya kepada Allah (QS.2:3).
Termasuk dalam membaca wahyu ilahi ini adalah memperhatikan
setiap penjelasan dan sikap dari sang pembawa risalah yakni Rasullulah SAW melalui hadist yang smapai kepada kita. Sehingga beliau S.a.w.
dapat menjadi teladan hidup dalam setiap gerak langkah aktivitas kita, dari
ucapan lisan, perbuatan
hati dan anggota badan. Rasullulah
SAW besabda:”ya Allah, rahmatilah khalifah-khalifahku. Para
sahabat lalu bertanya, ya
Rasullulah, siapakah
khalifah-khalifahmu ? Beliau menjawab ‘orang-orang sesudahku yang mengulang-ngulang
pelajaran hadits dan sunnahku
dan mengajarkannya kepada orang-orang sesudahku” (HR. A Ridha).
Al-quran dan Al-hadits, itulah sumber
utama ajaran Islam sebagai dienulloh (agama
Allah) dan sumber ilmu
pengetahuan yang tidak akan pernah habis untuk dikaji, yang dengannya Allah S.w.t akan meninggikan
derajat manusia, firman-Nya:“Allah
akan meninggikan derajat orang-orang
yang berilmu pengetahuan”(QS.
Al-mujadilah:11).
Dien al-Islam sebagai Ilmu, inilah yang akan mengantarkan seseorang kepada kebaikan di dunia dan akhirat. Bersabda rasulallah SAW:”apabila Allah menginginkan kebaikan bagi seorang, maka dia diberi pendalaman dalam ilmu agama. Sesungguhnya memperoleh ilmu hanya dengan belajar”(HR.Bukhari). Kebaikan seseorang akan diperoleh melalui usaha dengan mempelajari agamanya dengan penuh kesungguhan, dengan proses belajar. Kaitan dengan ini, Nabi S.a.w pun bersabda:”barang siapa merintis jalan mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga” (HR.Muslim).
Dien al-Islam sebagai Ilmu, inilah yang akan mengantarkan seseorang kepada kebaikan di dunia dan akhirat. Bersabda rasulallah SAW:”apabila Allah menginginkan kebaikan bagi seorang, maka dia diberi pendalaman dalam ilmu agama. Sesungguhnya memperoleh ilmu hanya dengan belajar”(HR.Bukhari). Kebaikan seseorang akan diperoleh melalui usaha dengan mempelajari agamanya dengan penuh kesungguhan, dengan proses belajar. Kaitan dengan ini, Nabi S.a.w pun bersabda:”barang siapa merintis jalan mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga” (HR.Muslim).
Bacalah! Berarti
disamping membaca dan memahami al-quran, kitapun dituntut untuk membaca dan
mempelajari berbagai peristiwa dan segala kejadian di alam semesta ini. Al-Quran dan alam semesta, keduanya
merupakan ayat-ayat Allah
yang terpadu dan saling melengkapi, yang dengannya akan mengantarkan
manusia senantiasa mengabdi dan mengagungkan
kebesaran dan kekuasa-Nya. Allah swt berfirman dalam
surat shad ayat
87:”al-quran ini tiada lain, malainkan
suatu peringatan yang membutuhkan pemikiran bagi alam semesta.”
Banyak diantara ayat-ayat al-Quran yang berbicara tentang
alam, materi
dan penomenanya. Juga
yang memerintahkan manusia untuk mengetahui dan memanfaatkan alam ini. Bahkan secara tegas dan
berulang-ulang al-Quran
menyatakan bahwa alam raya diciptakan dan ditundukkan Allah untuk manusia. Allah S.w.t befirman:”dan Dia
menundukkan
untuk kamu apa yang ada di langit
dan apa yang ada di bumi. Semuanya (sebagai anugrah) dari-Nya.”(QS.Al-jatsiyah:13).
Bacalah! Bacalah, kenalilah siapa dan apa diri kamu? Sadari kedudukannya, sebagai manusia di sisi Allah. Maka setiap muslim diharuskan untuk senantiasa
mengkaji dan memahami diri, berinstropeksi dari ucapan, gerak dan langkah, serta perbuatan yang
lahir maupun batin dalam
setiap kesempatan dan waktu yang telah dilaluinya. Kita dapat melihat kembali sudah benarkah ibadah kita
sendiri. Adakah
yang salah dalam amalan kita.
Karena boleh jadi amal dan
ibadah kita selama ini ada yang tidak sesuai dengan tuntutan dan ketentuan dalam islam, menyimpang, atau bahkan didalamnya merugikan orang lain.
Masih banyak yang harus kita renungkan tentang diri kita sebagai bentuk
pengenalan diri, sebab apalah artinya banyak mengenal pengetahuan dan ilmu yang
luas tanpa mengenal dirinya sendiri. Dan itu semua tentu dalam rangka usaha
meningkatkan kualitas diri; kualitas keimanan dan keislaman.
Allah SWT berfirman;”yaa ayyuhalladzina
aamanu, ittaqullaha
wal tandzur nafsun ma qoddamath
lighad”; wahai
orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah
dan hendaklah setiap diri (jiwa) memperhatikan apa yang
telah diperbuatnya untuk hari esok “ (QS.Al-hasyr;18). Ciri dari seorang
yang beriman adalah selalu berintropeksi diri dalam setiap waktu sehingga selalu menyadari
setiap kesalahan dan memperbaikinya. Selanjutnya Rasululah
SAW bersabda :barang siapa dari hari
kehari tidak bertambah kebaikannya, maka itulah orang orang yang berkemas kemas
menuju neraka secara sadar.”(HR.Assakir). Maka belajar itupun selama hayat dikandung
badan, agar
senantiasa mampu memperbaiki diri dari waktu ke waktu sampai didapatkan
kesempurnaan hidup dalam ketaqwaan pada
akhir hayatnya (husnul khatimah).
Bacalah ! Apa yang telah terjadi dimasa lalumu, ummat
sebelummu, dan seterusnya. Membaca dan mengkaji masa lalu atau sejarah,
merupakan bagian penting dalam memperbaiki peradaban ummat manusia. Kita harus
banyak belajar dari sejarah dan ambil setiap kebaikan dan hal positif sebanyak
mungkin didalamnya, untuk perbaikan kehidupan saat ini dan masa yang akan
datang.
Demikianlah, membaca erat kaitanya dengan akal dan fikiran. Akal inilah hal yang dapat membedakan
manusia dan mahkluk lain (binatang) dan dengannya maka dia dapat
berfikir, merenungkan setiap hal dan kejadian, memilih
jalan menuju pendekatan diri pada Sang
Maha Pencipta, mengambil pelajaran dari
setiap pengalaman, dan
sebagainya. Berbagai ungkapan dalam
al-Quran dan as-sunnah, ditujukan hanya kepada mereka yang berakal dan menggunakan akalnya dengan benar, firman-Nya: Allah akan menganugrahkan
al-hikmah kepada siapa yang Dia
kehendaki. Dan barang siapa yang
dianugrahi al-hikmah itu, dia benar-benar telah dianugrahi karunia yang banyak. Dan
hanya orang-orang yang berakal yang dapat mengambil pelajaran.” (QS.2:269).
Kemampuan dan penanaman budaya membaca sebagai wujud perintah
iqra’ menjadi kunci keberhasilan seorang muslim dan ummat Islam. Sejarah membuktikan bahwa membaca dapat
menumbuhkan kesadaran dan kepedulian umat manusia terhadap ilmu pengetahuan merupakan
pendukung utama terciptanya suatu peradaban. Tradisi membaca inilah
sebagai warisan yang perlu
dihidupkan terus demi kejayaan ummat Islam saat sekarang
dan yang akan datang. -wallohu a’lam.-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar