Kamis, 12 Maret 2015

Renungan (Salam)



MENEBARKAN SALAM MENUMBUHKAN KEDAMAIAN
Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan (salam), maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya” (Qs. An-Nisaa: 86).
          Misi yang harus dibawa setiap muslim dimana pun berada adalah senantiasa menebarkan kebaikan dan kedamaian kepada sesama manusia dan lingkungan sekitarnya. Tidak ada muslim kecuali dia memberikan manfaat. Dan manfaat ini dituntut bukan hanya untuk dirinya saja, tetapi juga kepada yang lainnya. Jika dilihat dari salah satu makna islam yang berarti selamat dan memberikan keselamatan, maka kebaikan, kedamaian, dan manfaat disini harus mengandung unsur keselamatan atau yang menyelamatkan, bukan yang menjurus kepada menjerumuskan atau mencelakakan. Dikatakan dalam sebuah hadits: “sebaik-baik manusia adalah yang memberikan manfaat kepada lainnya.”

          Kebaikan seorang muslim kepada yang lainnya dapat mencakup: pertama saling mendoakan, kedua saling peduli dan tolong menolong, ke tiga saling mengingatkan (menasehati), keempat saling mencintai, dan kelima saling berbagi ilmu. Kelima unsur tersebut paling tidak merupakan hal penting yang harus ada dalam menjalin persaudaraan diantara sesama muslim. Dikatakan bahwa belum disebut beriman seseorang yang belum mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri. Belum disebut beriman seseorang jika ada tetangganya yang kelaparan. Dikatakan bahwa dengan shalat yang dikerjakannya, itu kemudian memberikan dampak mampu mencegah perbuatan keji dan mungkar. Hal itu semua menunjukan bentuk kepedulian social yang harus diwujudkan oleh setiap muslim.

          Sebenarnya, bentuk kebaikan tadi terangkum dalam kalimat salam, assalaamu’alaikum warahmatullah wabarakaatuh. (kesejahteraan, rahmat serta berkah Allah semoga dilimpahkan kepadamu). Itulah do’anya seorang muslim yang harus senantiasa ditebarkan ketika berjumpa dengan sesama muslim lainnya. Tiada ucapan sebaik ucapan salam ini. Didalamnya mengandung do’a untuk kesejahteraan atau keselamatan, rahmat dan berkah Allah. Jika kita berbicara tentang keselamatan, maka sudah jelas keselamatan dimaksud keselamatan baik ketika didunia terlebih diakhirat, keselamatan diri dari api neraka. Bandingkan dengan ucapan semisal selamat pagi, selamat siang, selamat malam atau yang lainya, yang sebenarnya cenderung sekedar basa basi dan tanpa makna. Sungguh aneh, jika seorang muslim lebih menyukai ucapan terrsebut. Dari Abu Yusuf (Abdullah) bin Salam r.a., ia berkata: Saya mendengar Rassulullah S.a.w  bersabda :”Hai sekalian maanusia, sebarluaskanlah salam, berikanlah makanan, hubungkanlah tali persaudaraan, dan shalatlah pada waktu manusia sedang tidur, niscaya kamu sekalian masuk surga dengan selamat.”(Hr. Turmudzi)

          Kalimat salam merupakan kalimat dengan nama (asma) Allah. Ketika salam ini disampaikan kepada seisi rumah, maka insya  Allah, orang-orang seisi rumah tersebut akan mendapatkan berkah Allah. Firman Allah S.w.t: “ Maka apabila kamu memasuki (suatu rumah dari) penghuninya, salam yang ditetapkan disisi Allah, yang diberi berkat lagi baik.” (Qs. An-Nur: 61)

          Dari Anas r.a., ia berkata: Rasullulah S.a.w bersabda kepadaku:” Hai anakku, apabila kamu datang kepada keluargamu maka ucapkanlah salam, niscaya keluargamu mendapat berkah.”(Hr. Tarmudzi). Sebaik-baik rumah adalah rumah yang mendapat Rahmat serta berkah Allah. Yang bagaimana rumah yang dirahmati Allah? Ialah rumah didalamnya senantiasa dihidupkan dengan dzikrullah, shalat malam dan sering dibacakan Al-Qur’an. Dalam keadaan demikian, maka banyak malaikat turun ketempat tersebut sambil ikut serta mendo’akan orangt-orang yang berzikir kepada Allah.

          Kalimat salam mengandung unsur do’a dan penghormatan. Dari siapapun datangnya, asalkan dia seorang muslim, maka sebaik-baik diantara mereka adalah yang paling dulu mengucapkannya. Sabda rasulullah s.a.w : “sesungguhnya seutama-utama manusia menurut Allah adalah orang yang lebih dulu memberi salam.”(Hr.Abu Daud).

          Selanjutnya setiap mendapatkan ucapan salam, maka wajib menjawabnya. Sedangkan kita tidak dibenarkan memberi dan menjawab salamnya seorang kafir, karena memang do’anya mereka tidak sama dengan do’a kita. Ketika mereka mendo’akan keselamatan, maka keselamatan dalam hal apa. Sementara keselamatan bagi mereka sebenarnya adalah kesesatan bagi kita, sangat bertolak belakang. Menurut Rasulullah, untuk menjawab ucapan salam mereka adalah dengan mengembalikan maksud do’a mereka kepadanya. Dari Anas r.a. bahwasanya Rasulullah S.a.w. bersabda: “Apabila ahli kitab mengucapkan salam kepadamu sekalian, maka jawablah dengan: “Wa’alaikum.” ( Hr. Bukhari)

          Do’a, dengan demikian erat kaitannya dengan keimanan. Sehingga tidak dibenarkan mengaminkan doanya seorang yang berbeda agama. Do’a juga merupakan ritualitas ibadah, sehingga tidak dibenarkan kita berdo’a dengan mengikuti cara-cara do’a dari agama lain. Dengan demikian, kebiasaan berdo’a bersama dalam suatu acara formal, apapun namanya dan alasannya perlu dikaji ulang dan ditinjau kembali, sebab jangan-jangan hal tersebut menyalahi aturan syari’at kita, dan membelokkan keyakinan. Sebab ketegasan dienul Islam dengan dien (agama) lainnya sudah jelas, lakum dinukum waliyadin; untukmu agamamu, untukku agamaku, dan tidak boleh dicampur adukkan. Karena tidak setiap yang baik menurut manusia itu baik menurut padangan Allah, dan tidak setiap yang benar menurut pandangan manusia itu benar dalam pandangan Islam. Tetapi setiap kebaikan yang benar adalah yang mendatangkan rahmat Allah, Rasulullah S.a.w pernah bersabda: “Seorang masuk surga bukan karena amalnya, tetapi karena rahmat Allah Ta’ala. Karena itu bertindaklah yang lurus (baik dan benar)” (Hr. Muslim).

          Dari Abu Hurairah r.a rasulullah S.a.w bersabda : Kamu sekalian tidak akan masuk surga sebelum kamu beriman, dan kamu sekalian tidaklah beriman sebelum kamu saling mencintai. Maukah kamu sekalian aku tunjukkan sesuatu yang apabila kamu mengerjakannya, maka kamu sekalian akan saling mencintai? Yaitu sebarluaskan salam diantara kamu sekalian.” (Hr Muslim)

          Allah Swt menghendaki agar kita membalas setiap kebaikan orang, bahkan dengan yang lebih baik lagi. Allah S.w.t berfirman: “Apabila kamu diberi penghormatan denga suatu penghormatan (salam), maka balaslah  penghormatan itu dengan yang lebih baik daripadanya.” (Qs. An-Nisa: 86). Ayat ini menjelaskan kita tentang keutamaan membalas setiap kebaikan orang kepada kita, paling tidak sepadan dengan kebaikan yang diterima. Dan akan lebih baik lagi jika kebaikan itu dibalas dengan yang lebih baik, lebih terpuji. Disini, berlomba-lomba dalam kebaikan terjadi, dan itulah lomba yang dicintai oleh Allah dan rasul-Nya.

Firman Allah Swt : “maka berlomba-lombalah kamu (dalam membuat) kebaikan.” (Qs. al-Baqarah; 148). Menebarkan salam merupakan langkah untuk berlomba dalam kebaikan (fastabiqul khairat) yang dapat terwujud melalui kebersamaan dalam kehidupan dari mulai lingkungan keluarga sampai bermasyarakat. Sebab tidak ada lomba secara sendirian, yang tanpa lawan atau saingan. Dengan kata lain menebarkan salam sebagai ungkapan kebaikan terbuka luas dalam kehidupan sosial. Dan Allah pasti membalas kebaikan kita, firman-Nya: “dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan paling besar pahalanya” (Qs. Al-muzammil: 20)

          Dalam tafsir Ruhul Bayan telah diriwayatkan bahwa seseorang berkata kepada Rasulullah: “Assalamu’alaikum”, Nabi menjawab: “Wa’alaikum salam warahmatullah.” Orang lainnya berkata: Assalamualaikum warahmatullahi wabarakaatuh.” Nabi menjawab: “Wa’alaika.” Orang yang member salam berkata:  “Tuan telah mengurangiku, manakah ketentuan yang telah difirmankan Allah?” Kemudian orang itu membaca ayat ini, yakni: “manakah balasan salam yang lebih baik sebagaimana disebutkan dalam ayat?” Nabi S.a.w bersabda: “Kamu tidak lagi menyisakan keutamaan, aku pun membalas salammu dengan balasan serupa.” Dijelasklan dalam kitab tafsir Ibnu Katsir bahwa hal tersebut menunjukkan kita pun tidak dibenarkan menambah ucapa salam lebih dari yang dicontohkan Rasulullah tersebut.

          Dari abu Hurairah r.a bahwasanya Rasulullah S.a.w bersabda: “orang yang naik kendaraan memberi salam kepada orang yang berjalan, orang yang berjalan memberi salam kepada orang yang duduk, orang yang sedikit memberi salam kepada orang yang banyak.” (Hr. Bukhari). Dan didalam riwayat Bukhari dikatakan bahwa: “Yang kecil (muda) mengucapkan salam kepada yang lebih tua.” Ketentuan tersebut menunjukkan etika atau konsep pergaulan dengan lainnya dan untuk saling menghormati dari yang muda kepada yang lebih tua. Namun demikian, kita tidak menutup kemungkinan untuk berlomba dalam kebaikan didalamnya. Siapa yang lebih dahulu itulah yang utama di sisi Allah. Seorang bertanya kepada Rasul S.a.w.: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya ada dua orang yang saling bertemu, maka siapakah yang terlebih dahulu harus member salam? Beliau menjawab: “ orang yang lebih utama menurut Allah Ta’ala.” (Hr. Turmudzi dari Abu Humamah) Rasulullah S.a.w sendiri tidak membedakan siapa yang diberi salam baik wanita ataupun anak-anak. Pada suatu hari Rasulullah S.a.w melewati sekelompok wanita yang sedang duduk di masjid, maka beliau melambaikan tangan dan mengucapkan salam. (Hr. Turmudzi dari asma bin Yazid)

          Dijelaskan dalam Ruhul bayan apabila tidak ada seseorang pun selain orang yang sedang shalat, sebaiknya orang yang masuk itu membaca: “Assalamu’alaina wa’ala ibadillahi shalihi” dan dia tidak boleh memberi salam kepada orang yang lagi shalat, karena membebankan jawaban pada keadaan yang tidak membolehkan untuk menjawabnya. Ia harus membalasnya seusai shalat.

          Menyampakan salam sebagai do’a ditujukan kepada seseorang yang baik dan dalam keadaan berbuat baik. Do’a itu suatu yang terpuji, yang ditujukan kepada Tuhan Yang Maha Terpuji. Sekalipun memberi salam merupakan perbuatan terpuji, tetap harus memperhatikan lawan bicara, yang akan diberi do’a atau salam tersebut. Maka tidaklah pantas ucapan salam ditujukan kepada seseorang yang sedang dalam kemaksiatan, jauh dari Allah. Al-Qurthubi berkata: “seseorang tidak dibolehkan memberi salam kepada para pemuda asing karena dikhawatirkan akan timbul fitnah yang disebabkan oleh omongan mereka yang dengan godaan setan atau pandangan mata yang mengkhianati. Memberi salam kepada mahram dan nenek-nenek adalah baik. Seseorang harus memberi salam kepada orang islam, baik sudah dikenal maupun belum kenal. Seseorang tidak boleh memberikan salam kepada orang yang sedang bermain dadu, catur, sedang bernyanyi, sedang berbuat hajat, yang sedang buang air kecil, yang sedang telanjang di kamar mandi, dan sebagainya.” –Wallohu a’lam.-

Senin, 09 Maret 2015

Renungan (Basmalah)



UCAPKAN BASMALAH
Dialah Allah, yang tiada Tuhan selain Dia, yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Dialah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang ”.(QS. Al-Hasyr:22)

          Bacaan basmalah atau bismillahi ar-rahman ar-rohim diterjemahkan sebagai `dengan nama Allah yang Maha Pemurah, Maha Penyayang (Pengasih)`. Suatu kalimat yang utama tempat bertolaknya setiap aktivitas yang dapat mengantarkan manfa`at bagi dirinya, lingkungannya dan juga kemanusiaan secara menyeluruh. Sementara siapapun yang melupakan Allah, maka bisa jadi sia-sialah amalannya, sebagaimana firman-Nya: “Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan” (Qs.Al-furqan:23).

          Rasulullah S.A.W. bersabda :” Setiap perbuatan penting yang tidak dimulai dengan menyebut nama Allah, maka pekerjaan tersebut tidak sempurna (cacat)” (al-hadits).

          Hanya dengan keimanan kepada Allah dengan segala konsekuensi keta`atan didalamnya yang akan mendapatkan anugrah dan kasih sayang-Nya. Firman Allah S.W.T: “maka sembahlah Allah dengan menunaikan ibadah kepada-Nya,” (Qs. Al-Mu`min:14)

          Kalimat basmalah yang menjadi awal atau pemisah antar surat dengan kitab suci Al-Qur`an, mengandung makna yang menurut sebagian ulama mencakup ungkapan kesempurnaan Tuhan, diantara nama-nama dan sifat-sifatnya yang Agung (Asma`ul Husna) tanpa cacat sedikit pun. Sehingga bagi yang mengucapkannya, diharapkan terlintas segala sifat kesempurnaan-Nya tersebut. Bahkan diharapkan manusia dapat mencontoh sifat-sifat tersebut sesuai dengan kemampuan dirinya yang serba terbatas. Dengan ucapan ini, menunjukkan kelemahan akan diri serta kebutuhan pada Allah dan memohon pertolongan-Nya.

          Tiga dari asma-Nya agung tertuang dalam kalimat ini, Allah, Al-Rahman, dan  Al-Rahim. Boleh jadi lafadz `Allah` adalah yang terbanyak tercantum dalam al-qur`an, yang menurut pakar tafsir Qurays Syihab sebanyak 2698 kali. Dialah Allah yang sangat menakjubkan dalam segala perbuatannya dan yang mengherankan hakikat-Nya. Dia adalah dzat yang wajib wujud-Nya (wajibul wujud). Satu-satunya yang layak dan wajib disembah oleh setiap makhluk, sebab tiada Ilah (Tuhan) selain Allah. Kata `Ilah` diartikan sebagai sesuatu yang disembah, setiap objek sesembahan. Selain itu dikatakan sebagai thaghut.

          Al-Rahmah dan Al-Rahim adalah dua sifat yang hanya dimiliki Allah, berasal dari satu kata yang sama yaitu rahmah atau rahmat. Dalam Al-Qur`an, keduanya sering juga diungkap menjadi satu rangkaian yang berarti `yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang` sebagaimana lazimnya dalam terjemah depag, atau dalam tafsirnya Muhammad Yusuf Ali diartikan dengan `maha Pemurah (All Compassionate), Maha Pengasih (All Merciful)`. Meski demikian, para mufassirin (ahli tafsir) memberikan maknya yang berbeda dari keduanya. Untuk membedakan keduanya dengan cukup jelas telah disimpulkan oleh prof. Dawan Raharjo dalam bukunya Ensiklopedia Al-Qur`an, bahwa rahmat Allah meliputi semua makhluk, baik yang beriman maupun yang tidak beriman (kafir), terjadi terus menerus, menyangkut kehidupan di dunia. Kaitan dengan rahmat ini, Firman Allah: Dan tetapkanlah untuk kami kebajikan di dunia ini dan diakhirat;sesungguhnya kami kembali (bertaubat) kepada engkau. Allah berfirman:”Siksa-Ku akan Kutimpakan kepada siapa yang Aku kehendaki dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku  tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami.” ( Qs. Al-A’raaf : 156)

          Sedangkan Rahim-nya Alloh adalah kasih sayang khusus kepada orang beriman, kondisional, hanya terjadi sebagai respon terhadap tindakan seseorang yang diberikan kelak dalam kehidupan akhirat. Kaitan dengan ini, Firman Allah:”siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya dan (siapa pula yang mengharamkan) rezki yang baik? Katakanlah: semuanya itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus untuk mereka saja di hari kiamat.“(Qs. al-Araaf; 32). Maksudnya kenikmatan dan perhiasan di dunia diperuntukkan bagi yang beriman dan yang tidak beriman, sedang di akhirat hanya bagi yang beriman saja. Firman-Nya:”dan ta’atilah Allah dan Rasul, supaya kamu diberi rahmat  (Qs. Ali Imran : 132)

         Dijelaskan dengan indah oleh Abdullah Yusuf Ali dalam tafsirnya ‘The Holy Qur’an’, sebagai berikut: “kasih dapat mengundang arti kasihan, tahan menderita, sabar atau tabah dan penuh ma’af. Semua itu sangat diperlukan oleh orang yang berdosa dan Allah Maha Pengasih, memberi karunia yang berlimpah. Tetapi ada Kasih yang sudah mendahului segala keperluan itu, yakni sifat Pemurah yang sudah siap selalu, memancar dari Allah Yang Maha Pemurah itu kepada semua mahluk-Nya, melindungi, menjaga, memberi petunjuk kepada mereka, serta membimbing mereka kepada cahaya yang lebih terang dan nilai hidup yang lebih tinggi. Itulah sebabnya sifat Rahman (Maha Pemurah) itu tak dapat diterapkan pada apa dan siapapun selain Allah. Tetapi sifat Rahim (Pengasih) merupakan istilah yang umum, dan dapat juga diterapkan pada manusia. Agar kita merenungkan anugrah Allah yang tak terhingga itu, maka ucapan basmalah ditempatkan pada setiap awal surat al-Qur’an (kecuali surat 9), dan diulang pada setiap akan memulai pekerjaan oleh seorang muslim yang ingin mengabdi hidupnya kepada Allah, dan harapannya hanya dalam kasih-Nya.” (wallohu a’lam)

          Nabiulloh Muhammad S.a.w bersabda: “Allah mempunyai seratus rahmat yang Dia berikan satu untuk penduduk dunia seluruhnya dan Dia menahan yang 99 lagi untuk di akhirat yang menunjukkan sifat Penyayang dengan yang 99 ini kepada para hamba-Nya” (Hadits). Keterangan ini menunjukkan kepada kita di dunia ini, kenikmatan yang sudah begitu banyak sampai kemudian tanpa dirasakan atau melupakannya, ternyata masih tidak seberapa dibandingkan dengan kenikmatan dan kasih sayang Allah kelak di akhirat, yang hanya akan diberikan  kepada orang-orang yang beriman dan bertaqwa.

          Firman Allah Swt : “dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa.” (Qs. Ali Imran: 133). Siapakah orang bertaqwa ini, diantaranya disebutkan dalam Firman Allah: “(Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik diwaktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan” (Qs. Ali Imran : 134)

          Ketaqwaan itu hanya dapat terjadi apabila dia mengikuti setiap petunjuk Allah dan Rasul-Nya. Firman Allah:“Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan sebuah kitab (al-qur’an) kepada mereka yang Kami telah menjelaskannya atas dasar pengetahuan Kami (yang bermashalat bagi hambanya di dunia dan akhirat); menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.’ (Qs. al-A’raaf :52)

           Rasulullah S.a.w telah memberikan petunjuk dan contoh kepada kita dalam setiap keadaan untuk senantiasa diawali dengan ucapan basmalah dan do’a, baik ketika memulai beribadah, membaca (belajar), bekerja, makan, keluar rumah atau naik kendaraan dan lainnya. Semuanya merupakan wujud ingat kepada Allah (dzikrullah) sebagai yang akan mengawali dan mengantarkan  ketakwaan kita kepada-Nya. Menurut Rasulullah, setiap do’a yang diawali dengan ucapan basmalah akan dikabulkan, sebagaimana sabdanya: “Tidak ditolak do’a yang dimulai dengan  bismillahirrohmaanirrohiim.” (hadits).

          Pendek kata jika kita mengharapkan ridha Allah, mari kita awali setiap aktifitas kita yang baik dengan basmalah. Memulai dengan basmalah sebagai pengajaran kepada umat, agar mereka mencontoh dalam memulai pekerjaannnya, membuat selalu gembira, optimis, dan terpelihara oleh Allah. Dengan demikian dengan ungkapan basmalah kita, setiap apa yang kita lakukan senantiasa memancarkan cahaya kedamaian dan memberikan kasih sayang kepada sesama dan lingkungan kita, sehingga terwujud harapan pengikut Muhammad saw, melalui Firman Allah Ta’ala: “dan tiada Kami mengutus kamu (Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (Os. Al-Ambiya : 107). -Wallohu a’lam-

Minggu, 08 Maret 2015

Renungan (Membaca)



BACALAH ATAS NAMA TUHANMU !


Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari ‘alaq. Bacalah,dan Tuhanmulah yang paling pemurah, yang mengajar manusia dengan pena, dia mengajarkan kepada manusia apa yang belum diketahuinya.  
(Q.s. Al-‘alaq:1-5)

Iqra’ dapat diartikan dengan bacalah, telitilah, dalamilah, atau ketahuilah ciri-ciri zaman, sejarah, diri sendiri, baik tertulis maupun tidak tertulis (Prof. Qurays Syihab, 1995). Dengan demikian perintah membaca dimaksud mencakup segala sesuatu yang dapat dijangkau. Ketika perintah ini turun kepada Nabi Muhammad SAW, beliau malah balik bertanya, ‘ma aqra’, apa yang harus dibaca? Pertanyaan teersebut tidak dijawab oleh Allah. Karena yang dikehendaki agar beliau dan ummatnya membaca apa saja, selama bacaan tersebut bismirabbika, ‘atas nama Allah’ dan untuk kemanfa’atan hidup menuju ridha-Nya.

Iqra’ yang dalam ayat di atas di ungkapkan secara berulang-ulang tersebut merupakan perintah pertama yang ditujukan kepada Nabi Saw sekaligus pertanda kerasulannya. Meski sebelumnya dikalangan bangsa Arab berpandangan bahwa membaca itu pertanda kehinaan atau kelemahan manusia. Tetapi kemudian berbalik menunjukan bahwa ‘membaca’ menjadi sesuatu yang paling berharga yang pernah dan dapat diberikan kepada ummat manusia, sebagai syarat pertama dan utama pengembangan ilmu dan teknologi serta syarat utama membangun peradaban.

Perintah Iqra’ merupakan perlambang wajibnya menuntut ilmu (belajar) bagi setiap individu muslim yang tidak bisa ditawar lagi. Rasulullah SAW bersabda:”Menuntut ilmu adalah suatu faridhah (kewajiban) atas setiap muslim” (dirawikan oleh Ibnu Majah). Kata faridhah dalam hadist tersebut memiliki beberapa pengertian sebagaimana dikemukakan Muhammad Qutb dalam bukunya ’Qabasat min ar-rasul’, yaitu:

   1.Kewajiban yang dibebankan Allah kepada seseorang dan harus dilaksanakannya. Kewajiban ini tidak boleh terganggu oleh berbagai pekerjaan lain, dan tidak boleh pula tertunda oleh berbagai kesulitan.

   2.Tanggung jawab yang harus dilaksanakan seseorang, melaksanakan tanggung jawab ini merupakan suatu pengabdiannya, karena ini harus dilaksanakan dengan jujur dan ikhlas.

  3.Suatu perbuatan yang dapat mendekatkan diri seseorang kepada Allah. dengan sebab itu maka keimanan dan kecintaannya kepada Allah bertambah.

         Dengan demikian menuntut ilmu dalam islam sebagai perwujudan perintah Iqra’ menjadi suatu keharusan dan tanpa kecuali, apakah pria atau wanita, kaya atau miskin, tua atau muda bahkan anak-anak sekalipun. Membaca merupakan pintu gerbang menuju keyakinan dan kesuksesan hidup, baik di dunia maupun di akhirat. 
         Lantas apa saja sebenarnya yang harus kita baca? Iqra’ (Bacalah!)  Berarti kita diperintahkan Allah untuk membaca dan memahami firman Allah (Al-Quran) yang diturunkan kepada manusia sehingga menjadikannya sebagai pedoman hidup. Kita hanya dapat mengetahui ajaran islam sebagai ajaran Tuhan melalui al-quran. Setiap ajaran yang terdapat dalam al-quran itulah ajaran islam yang sebenarnya. Maka setiap muslim diwajibkan untuk senantiasa berusaha menggali isi kandungan al-quran, agar dengannya mampu menjadi petunjuk dalam ketaqwaan dan senantiasa mendekatkan dirinya kepada Allah (QS.2:3).

Termasuk dalam membaca wahyu ilahi ini adalah memperhatikan setiap penjelasan dan sikap dari sang pembawa risalah yakni Rasullulah SAW melalui hadist yang smapai kepada kita.  Sehingga beliau S.a.w. dapat menjadi teladan hidup dalam setiap gerak langkah aktivitas kita, dari ucapan lisan, perbuatan hati dan anggota badan. Rasullulah SAW besabda:”ya Allah, rahmatilah khalifah-khalifahku. Para sahabat lalu bertanya, ya Rasullulah, siapakah khalifah-khalifahmu ? Beliau menjawab ‘orang-orang sesudahku yang mengulang-ngulang pelajaran hadits dan sunnahku dan mengajarkannya kepada orang-orang sesudahku”  (HR. A Ridha).

Al-quran dan Al-hadits, itulah sumber utama ajaran Islam sebagai dienulloh (agama Allah) dan sumber ilmu pengetahuan yang tidak akan pernah habis untuk dikaji, yang dengannya Allah S.w.t  akan meninggikan derajat manusia, firman-Nya:“Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang berilmu pengetahuan”(QS. Al-mujadilah:11).    
Dien al-Islam sebagai Ilmu, inilah yang akan mengantarkan seseorang kepada kebaikan di dunia dan akhirat. Bersabda rasulallah SAW:”apabila Allah menginginkan kebaikan bagi seorang, maka dia diberi pendalaman dalam ilmu agama. Sesungguhnya memperoleh ilmu hanya dengan belajar”(HR.Bukhari). Kebaikan seseorang akan diperoleh melalui usaha dengan mempelajari agamanya dengan penuh kesungguhan, dengan proses belajar. Kaitan dengan ini, Nabi S.a.w pun bersabda:”barang siapa merintis jalan mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga”  (HR.Muslim).

Bacalah!  Berarti disamping membaca dan memahami al-quran, kitapun dituntut untuk membaca dan mempelajari berbagai peristiwa dan segala kejadian di alam semesta ini. Al-Quran dan alam semesta, keduanya merupakan ayat-ayat Allah yang terpadu dan saling melengkapi, yang dengannya akan mengantarkan manusia senantiasa mengabdi dan mengagungkan kebesaran dan kekuasa-Nya. Allah swt berfirman dalam surat shad ayat 87:”al-quran ini tiada lain, malainkan suatu peringatan yang membutuhkan pemikiran bagi alam semesta.” 
Banyak diantara ayat-ayat al-Quran yang berbicara tentang alam, materi dan penomenanya. Juga yang memerintahkan manusia untuk mengetahui dan memanfaatkan alam ini. Bahkan secara tegas dan berulang-ulang al-Quran menyatakan bahwa alam raya diciptakan dan ditundukkan Allah untuk manusia. Allah S.w.t befirman:”dan Dia menundukkan untuk kamu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Semuanya (sebagai anugrah) dari-Nya.”(QS.Al-jatsiyah:13).


Bacalah!  Bacalah, kenalilah siapa dan apa diri kamu? Sadari kedudukannya, sebagai  manusia di sisi Allah. Maka setiap muslim diharuskan untuk senantiasa mengkaji dan memahami diri, berinstropeksi dari ucapan, gerak dan langkah, serta perbuatan yang lahir maupun batin dalam setiap kesempatan dan waktu yang telah dilaluinya. Kita dapat melihat kembali sudah benarkah ibadah kita sendiri. Adakah yang salah dalam amalan kita. Karena boleh jadi amal dan ibadah kita selama ini ada yang tidak sesuai dengan tuntutan dan ketentuan  dalam islam, menyimpang, atau bahkan didalamnya merugikan orang lain. Masih banyak yang harus kita renungkan tentang diri kita sebagai bentuk pengenalan diri, sebab apalah artinya banyak mengenal pengetahuan dan ilmu yang luas tanpa mengenal dirinya sendiri. Dan itu semua tentu dalam rangka usaha meningkatkan kualitas diri; kualitas keimanan dan keislaman.

          Allah SWT berfirman;”yaa ayyuhalladzina aamanu, ittaqullaha wal tandzur nafsun ma qoddamath lighad”; wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri (jiwa) memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (QS.Al-hasyr;18). Ciri dari seorang yang beriman adalah selalu berintropeksi diri dalam setiap waktu sehingga selalu menyadari setiap kesalahan dan memperbaikinya. Selanjutnya Rasululah SAW bersabda :barang siapa dari hari kehari tidak bertambah kebaikannya, maka itulah orang orang yang berkemas kemas menuju neraka secara sadar.”(HR.Assakir). Maka belajar itupun selama hayat dikandung badan, agar senantiasa mampu memperbaiki diri dari waktu ke waktu sampai didapatkan kesempurnaan hidup dalam ketaqwaan pada akhir hayatnya (husnul khatimah).

Bacalah ! Apa yang telah terjadi dimasa lalumu, ummat sebelummu, dan seterusnya. Membaca dan mengkaji masa lalu atau sejarah, merupakan bagian penting dalam memperbaiki peradaban ummat manusia. Kita harus banyak belajar dari sejarah dan ambil setiap kebaikan dan hal positif sebanyak mungkin didalamnya, untuk perbaikan kehidupan saat ini dan masa yang akan datang.          

Demikianlah, membaca erat kaitanya dengan akal dan fikiran. Akal inilah hal yang dapat membedakan manusia dan mahkluk lain (binatang) dan dengannya maka dia dapat berfikir, merenungkan setiap hal dan kejadian, memilih jalan menuju pendekatan diri pada Sang Maha Pencipta, mengambil pelajaran dari setiap pengalaman, dan sebagainya. Berbagai ungkapan dalam al-Quran dan as-sunnah, ditujukan hanya kepada mereka yang berakal dan menggunakan akalnya dengan benar, firman-Nya: Allah akan menganugrahkan al-hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barang siapa yang dianugrahi al-hikmah itu, dia benar-benar telah dianugrahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakal yang dapat mengambil pelajaran.” (QS.2:269).
          Kemampuan dan penanaman budaya membaca sebagai wujud perintah iqra’ menjadi kunci keberhasilan seorang muslim dan ummat Islam. Sejarah membuktikan bahwa membaca dapat menumbuhkan kesadaran dan kepedulian umat manusia terhadap ilmu pengetahuan merupakan pendukung utama terciptanya suatu peradaban. Tradisi membaca inilah sebagai warisan yang perlu dihidupkan terus demi kejayaan ummat Islam saat sekarang dan yang akan datang.  -wallohu a’lam.-